Ketik untuk memulai pencarian

Anyer, Destinasi Wisata Pantai Setelah Bali

Anyer, Destinasi Wisata Pantai Setelah Bali

Foto: jelajahin.com

Siapa yang tidak mengenal kawasan pantai Anyer yang terletak di Provinsi Banten dan apa daya tarik wisata dari pantai Anyer ini? Anyer, tempat kelahiran saya itu adalah salah satu wisata pantai yang sudah tidak asing lagi bagi wisatawan, baik domestik maupun manca negara.

Dengan pemandangan pasir putihnya yang terhampar sepanjang pesisir perairan laut selatan, deburan ombaknya yang memikat para wisatawan yang menyukai berselancar dan biru tosca air lautnya dengan terumbu karang yang cantik.

Kawasan pantai Anyer memiliki daya tarik tersendiri dan mudah ditempuh melaui transportasi darat. Udaranya yang masih segar dan sapuan angin lautnya yang sepoi-sepoi.

Anyer juga menawarkan berbagai hotel, cottage, atau sekadar homestay yang menyediakan berbagai fasilitas yang memanjakan hasrat wisata atau sekadar berlibur santai di bibir pantai sambil menyaksikan matahari terbenam di kaki langit dan Anak Gunung Krakatau yang menampakkan wajahnya yang gagah dan penuh kharisma selayang mata kita memandang.

Di Anyer juga kita bisa menyaksikan sisa-sisa sejarah peninggalan masa lalu saat bangsa kita dijajah oleh Belanda. Anyer juga menawarkan berbagai wisata kuliner laiknya khas pantai dan khas pantai Anyer itu sendiri.

Dekat dari Jakarta

Enaknya lagi, pantai Anyer itu lokasinya tidak terlalu jauh dengan ibu kota Jakarta. Jaraknya sekitar 150 km dari Jakarta dan bisa ditempuh hanya dua atau tiga jam saja dengan kendaraan roda empat. Berbeda dengan Bali yang jelas lebih jauh jaraknya dari Jakarta dan harus merogoh kantong lebih dalam lagi ketimbang berlibur dan berwisata ke Anyer.

Padahal Anyer juga memiliki destinasi wisata pantai dan laut yang tidak kalah indah dan menariknya selain Bali. Wajar jika ada yang menyebut Anyer adalah Bali kedua. Kalau anda tidak sempat berkunjung wisata ke Bali, berkunjunglah ke Anyer. Berada di kawasan Anyer berasa berada di Bali. Begitu kurang lebih kesan orang yang pernah berkunjung ke Anyer.

Anyer juga tentu sangat berbeda dangan kawasan pantai Ancol Jakarta Utara yang air lautnya keruh berwarna hitam karena sudah tercemar oleh sampah Jakarta. Laut Ancol sebenarnya sudah bukan daya tarik lagi. Apalagi dengan kawasan wisata Kepulauan Seribu yang hanya bisa ditempuh dengan kapal. Agak merepotkan, karena kendaraan kita hanya bisa diparkir dan kita tinggalkan di dermaga Marina Ancol atau dermaga Muara Angke Jakarta Utara.

Rute jalan menuju pantai Anyer, paling tidak, bisa ditempuh melaui dua opsi perjalanan darat. Pertama, lewat jalan tol Jakarta - Merak, keluar di gerbang tol Cilegon Barat selanjutnya menyusuri jalan raya protokol menuju ke Anyer. Kedua, lewat jalan raya biasa non-tol atau jalan raya protokol dari Jakarta-Cilegon menuju ke Anyer. Atau bisa juga lewat jalan raya Jakarta-Serang, kemudian mengambil jalan alternatif ke Ciomas.

Sampai di persimpangan Palima, menempuh jalan ke arah Anyer melewati jalan pedesaan sedikit berkelok-kelok di dataran tinggi hijaunya pegunungan dan suasana alam pedesaan sembari menikmati hamparan sawah yang luas.

Anak Gunung Krakatau

Tentang Anak Gunung Krakatau, kita dapat menyambangi dan menjejakkan kaki di Anak Gunung Krakatau ini dengan rata-rata waktu yang ditempuh dari pantai Anyer kurang lebih selama tiga jam dengan menggunakan perahu motor atau speed boat yang disewakan oleh warga.

Masuk ke kawasan Anak Gunung Krakatau ini tidak disediakan tiket karena merupakan kawasan cagar alam, yang ada hanya "biaya sewa" ranger (penjaga) kurang lebih sebesar Rp 50.000,00. Kalau tidak sempat, bisa dengan hanya melihatnya lewat teropong yang disediakan oleh pemerintah di pos pemantauan Anak Gunung Krakatau ini.

Follow Qureta Now!

Sejarah munculnya Anak Gunung Krakatau sendiri sekitar tahun 1927 atau sekitar 44 tahun setelah meletus "induknya", Gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883. Letusannya yang dahsyat dan terbesar saat itu dalam sejarah dengan disertai gelombang tsunami sebelum terjadinya tsunami yang lebih dahsyat lagi yaitu tsunami Aceh tanggal 26 Desember 2004. Selanjutnya, baca di sini.

Sate Bandeng, Petai dan Emping Melinjo

Wisata bahari dan pantai identik dengan sajian kuliner dan cindera mata yang khas dan spesial. Anyer pun menawarkan itu semua. Berbagai hidangan dan kuliner khas pantai, seperti seafood sudah pasti mudah ditemukan di sini. Tapi di Anyer ini, ada kuliner yang tidak ada di tempat lain dan merupakan ciri khas kuliner daerah Banten secara umum yaitu Sate Bandeng.

Sate ini berbeda dengan sate-sate biasanya di tanah air, karena bahan dasarnya dari ikan bandeng. Ikan bandeng dikenal kulitnya yang agak tebal dan tidak mudah sobek. Bandeng dipukul-pukul pelan-pelan dengan sebilah kayu agar dagingnya hancur dan terpisah dari tulangnya. Setelah itu ikan bandeng ini disayat atau dibedah untuk dikeluarkan dagingnya yang sudah hancur dan tulang/durinya dibuang.

Daging ikan bandeng yang sudah bersih dari duri-durinya diblender kemudian dicampur dengan bumbu gurih pedas yang sudah diracik dan dimasukan kembali ke tubuh bandeng seperti semula membentuk badeng secara utuh tapi sudah tak bertulang. Terakhir bandeng ini dikukus terlebih dulu kemudian dibakar. Sate bandeng siap disajikan. Secara detail tentang sate bandeng bisa dibaca di sini.

Karena ikan bandeng itu terkenal dengan tulang/durinya yang banyak dan merepotkan ketika disantap, maka kuliner sate bandeng ini sebenarnya untuk mensiasati agar menyantap ikan bandeng dengan nyaman dan nikmat tanpa direpotkan dengan duri-durinya itu.

Jangan kaget jika berkunjung ke pantai Anyer, kita menyaksikan banyak pedagang yang menjajakkan cindera mata dan oleh-oleh khas pantai. Kios-kios menawarkan cindera mata yang terbuat dari berbagai macam kerang laut dan pernak-pernik kerajinan tangan lainnya. Tak ketinggalan bagi yang suka makan buah petai dan emping melinjo adalah oleh-oleh yang khas dijajakkan dan bisa ditemukan di pantai Anyer ini.

Mercusuar Anyer

Anyer juga bisa membawa imajinasi kita pada jejak sejarah peninggalan masa lalu saat bangsa kita, Indonesia dijajah oleh Belanda. Sebuah wisata sejarah yang sangat menarik. Dalam sejarah, kita sudah begitu akrab dengan fakta sejarah dibangunnya proyek jalan raya dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km sekitar tahun 1808.

Kenapa jalan raya ini dibangun? Karena penjajah Belanda kali pertama menginjakkan kakinya di kawasan Anyer ini lewat jalur laut, bukan daratan. Laut sekitar Anyer ini adalah laut dangkal yang tidak bisa dilewati kapal besar. Makanya dalam sejarah diceritakan bahwa pernah terjadi kapal mereka tidak bisa melaju karena terdampar di perairan Anyer ini. Di samping itu tentu demi kemudahan transportasi dan komunikasi antara daerah-daerah jajahan di pulau Jawa.

Pembangunan jalan raya Anyer sampai Panarukan itu dan mercusuar di pantai Anyer sebagai rambu untuk memandu para nahkoda kapal agar tidak melewati perairan sekitar Anyer adalah saksi bisu dan bukti yang bisa bercerita tentang sejarah masa lalu saat Indonesia dalam cengkraman penjajahan Belanda.

Menurut catatan sejarah, jalan raya Anyer-Panarukan dan mercusuar ini diprakarsai dan dibangun oleh seorang Gubernur Jenderal Belanda, Herman Willem Daendels (1762-1818), adalah artefak sejarah peninggalan penjajah Belanda yang bisa kita saksikan sampai hari ini di Anyer.

Konon, selain di Anyer ini, penjajah Belanda juga membangun mercusuar yang ada di Kepulauan Seribu tepatnya di Pulau Sabira (alhamdulillah saya pernah ke pulau ini dan menyaksikan mercusuarnya) dan Kepulauan Bangka Belitung (semoga kapan-kapan saya bisa berkunjung ke negeri Laskar Pelangi tersebut).

Hebatnya mercusuar-mercusuar ini, termasuk mercusuar yang ada di Anyer juga masih berfungsi efektif sampai sekarang. Terletak di Jl.Raya Anyer KM.131 sebelum hotel Mambruk Anyer. Tinggi Mercusuar ini sekitar 75,5 meter. Memiliki 18 tangga dan 286 anak tangga.

Kita juga bisa menaiki tangga yang ada di dalam mercusuar ini sampai ke puncaknya, sekaligus menyaksikan dengan leluasa pemandangan hamparan indahnya laut biru pantai Anyer dan sapuan angin laut yang berhembus sepoi-sepoi dari ketinggian di puncak mercusuar ini.

Karang Bolong dan Batu Sawung

Berkunjung ke Anyer, tidak afdol jika tidak menyaksikan pemandangan yang eksotik dan indah berupa sebuah karang raksasa bolong dan menjorok ke laut. Kita bisa duduk-duduk santai tepat di bawah Karang Bolong ini atau menaiki Karang Bolong ini sampai ke ujungnya yang menjorok ke tengah lautan. Bagi yang suka berfoto adalah saat yang tepat untuk mengabadikannya.

Tidak terlalu jauh letaknya dari Karang Bolong, ada batu yang berbentuk sawung atau gubuk, dikenal dengan sebutan Batu Sawung. Seperti Karang Bolong, hanya Batu Sawung ini bentuknya lebih kecil saja adalah juga sangat sayang jika dilewatkan.

Suasana pantai Anyer dijamin dapat memanjakan anda, menghilangkan kepenatan dan mengendorkan urat saraf sekaligus sebagai alternatif menghindari suasana hiruk pikuk ibu kota Jakarta yang identik dengan kota yang tiada hari tanpa kemacetan dan polusinya yang meyebalkan dan menyesakkan dada itu.

Untuk itu, cobalah jalan-jalan ke Anyer menikmati eksotiknya pantai dengan deburan ombaknya, biru tosca air lautnya dan hamparan pasir putihnya yang memesona. Tidak perlu jauh-jauh ke Bali. Rasakan dan nikmati liburan dengan cita rasa Bali di Anyer.

Muis Sunarya

Alumnus IAIN Ciputat

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016