20170103_145710.png
Foto: pandji.com
Politik · 3 menit baca

Anies Baswedan Mengkhianati Cak Nur

Saya tak mengenal Anies Baswedan, calon gubernur DKI Jakarta itu. Tapi saya, bisa jadi juga publik, hanya mengetahuinya melalui media, dari sejak ia muncul tiba-tiba didaulat sebagai rektor Universitas Paramadina yang dirintis oleh almarhum Prof. DR. Nurcholish Madjid (Cak Nur), sekaligus Cak Nur sendiri sebagai rektor pertamanya.

Kesan saya terhadap sosok Anies saat itu adalah, ia masih muda, tampangnya manis, gaya bicaranya sistematis dan tampak cerdas. Sosok pemimpin masa depan dan penerus idealisme Cak Nur dalam mengembangkan khazanah pemikiran keislaman, keindonesiaan dan kemodernan. Sosok yang akan memperjuangkan semangat keislaman yang inklusif, semangat pluralisme dan toleransi, semangat demokrasi tanpa diskriminasi dan kekerasan.

Sampai kemudian Anies dengan memesona meluncurkan gerakan "Indonesia Mengajar" dan tiba-tiba saja dalam rentang waktu yang tidak lama, ia sudah mencemplungkan diri di kubangan politik praktis dengan mengikuti konvensi calon presiden yang diadakan oleh Partai Demokrat ketika itu.

Di sini tampaknya libido dan nafsu untuk berkuasanya mulai disalurkan dengan mempromosikan konsep pentingnya orang muda yang bersedia urun rembuk dan turun tangan masuk pada kekuasaan; rayuan yang seksi dan menggodanya untuk memberi kontribusi membangun Indonesia.

Gagal dalam konvensi capres Partai Demokrat, serta merta dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, tahu-tahu Anies sudah berada pada barisan tim sukses pemenangan calon presiden Jokowi dengan melawan dan menghujat habis-habisan Prabowo, capres pesaingnya. Jokowi akhirnya memenangkan pemilu dan menjadi presiden RI.

Langkah Anies tepat memilih untuk menjadi tim sukses Jokowi. Ia akhirnya dihadiahi oleh Presiden Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, walaupun tidak lama ia pun dipecat oleh Presiden Jokowi. Dan dalam hitungan hari setelah dipecat sebagai menteri dan mengganggur, membuncah lagi nafsu dan libido ingin berkuasanya.

Dengan hati yang luka dan terlunta-lunta, akhirnya ia merapat kepada musuhnya yang dulu ia benci dan caci maki. Tanpa pikir panjang, ia menerima cinta dan pinangan Prabowo untuk menjadi cagub DKI Jakarta didampingi Sandiaga S. Uno sebagai cawagub.

Dengan menerima pinangan sebagai cagub yang diusung oleh Gerindra dan PKS saja, itu menunjukkan adanya sikap inkonsistensi Anies dalam berpolitik dan sikapnya yang tidak tahu malu, ibarat meludah, ia menjilat kembali ludahnya sendiri. Menjijikkan!

Apalagi dengan sowannya Anies ke markas FPI baru-baru ini, di hari perdana tahun baru 2017, Anies benar-benar sudah sampai pada orgasme politisnya. Idealisme Anies, yang dulu selalu mendendangkan lagu "menenun kebhinnekaan dan kemajemukan NKRI" selaras dengan idealisme Cak Nur, sudah pupus. Berakhir sudah dongengnya sebagai seorang penenun kebhinnekaan dan Islam yang rahmatan lil 'alamin, sebagaimana yang dicita-citakan oleh Cak Nur selama ini, dengan lagi-lagi melacurkan diri dan berselingkuh dengan Habib Rizieq dan FPI-nya di rumahnya. Habib Rizieq yang dulu termasuk orang yang benar-benar anti dan dibencinya habis-habisan.

Dulu, Anies itu tidak suka yang namanya gerakan kekerasan dan tindakan sewenang-wenang oleh FPI dan ormas-ormas yang seirama dengan FPI. Ia tidak suka mereka yang bertindak demikian atas nama agama dan Tuhan, melafal dan meneriakkan kalimat suci "Allahu Akbar", mencatut nama Tuhan, bernaung dalam paham jihad yang gagal paham, bersumbu pendek, menghalalkan segala cara, melakukan kekerasan dan tindakan menghakimi sendiri.

Ia tidak suka dengan orang/kelompok yang gampang mengafirkan orang, suka memecah-belah kerukunan dan bertindak intoleran.

Tapi, sekarang Anies menyatu (ingat bukan pemersatu elemen bangsa) dengan FPI dan kelompok yang jelas-jelas bukan menenun, tetapi merobek-robek persatuan dan kesatuan bangsa. Kelompok yang merusak toleransi, kerukunan dan kebhinnekaan NKRI yang sudah indah ini dan menjadi kebanggaan kita di hadapan bangsa lain.

Hal itu dilakukan Anies demi memuaskan nafsu dan libido politik praktisnya. Demi hasratnya atas kekuasaan sesaat dalam kompetisi pilkada DKI Jakarta. Padahal, belum tentu ia menang menghadapi cagub yang lainnya, yaitu AHY yang suka loncat-loncat, takut debat sampai lebaran kuda dan tidak jelas visi-misinya itu. Apalagi untuk mengalahkan cagub pejawat, Ahok, yang sudah jelas terbukti dan teruji hasil kerjanya.

Memang tindakan demikian, sah-sah saja dalam berpolitik. Apalagi Anies sekarang sudah murni seratus persen sebagai politisi, bukan akademisi seperti awal kelahirannya di Universitas Paramadina dulu. Dalam politik, mungkin ada benarnya bahwa: "Tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi."

Tapi, adalah naif dan tak beradab untuk apapun alasannya jika ia mengorbankan nilai ideologi, integritas dan keyakinannya selama ini dengan melacurkan diri dan mengkhianati nilai-nilai luhur dan idealismenya. Dan Anies melakukan itu. Tidak saja ia merendahkan dirinya dengan melacurkan diri demi kepentingan politis yang sifatnya sesaat, tetapi juga mencederai dan mengkhianati cita-cita dan apa yang sudah dilakukan pendahulunya yang ia kagumi, yaitu Cak Nur.

Lengkaplah sudah sekarang bahwa Anies Baswedan benar-benar tidak saja sebagai pelacur politik, tapi ia adalah pengkhianat Cak Nur itu sendiri. Bertobatlah, Bung Anies!