27726.jpg
https://sports.clickon.co/
Olahraga · 4 menit baca

Anda Boleh Tidak Juara, Asal Jangan Kalah di El Clasico


Berlebihan? Bagi sebagian orang ungkapan tersebut terkesan ‘lebay’ tetapi tidak bagi mereka yang memahaminya lebih dari sekedar pertandingan. Ya, El Clasico adalah laga klasik penuh gengsi mempertemukan dua klub seteru abadi di Negeri Matador, Real Madrid dan FC Barcelona. Diluar tensi panas pertandingan sejarah panjang keduanya penuh dengan ketegangan, intrik bahkan interfensi rezim pemerintah.

Real Madrid berbasis di jantung Ibu Kota Spanyol adalah simbol kemapanan sedangkan Barcelona berasal dari wilayah Catalonia dianggap sebagai kelompok sparatis yang selalu ingin memisahkan diri. Namun stigma itu hanya ada pada beberapa dekade lalu, sedangkan pada saat ini warga Katalan (etnis Catalonia) lebih memilih FC Barcelona sebagai simbol perlawanan terhadap kemapanan Ibu Kota.

Catalonia Is Not Spain 

Banyak diantara orang Katalan merasa bukan bagian dari Spanyol meski secara administratif daerah otonom Catalonia tetap menjadi bagian dari Spanyol sampai saat ini. Mereka bahkan memiliki bahasa dan bendera yang samasekali berbeda dengan Spanyol.

Jika ditinjau dari segi sosial, ekonomi dan politik bisa saja pemisahan itu adalah sebuah keuntungan, tetapi tidak bagi perkembangan sepak bola di wilayah tersebut. Sekalipun sempat dibentuk Timnas Catalonia yang berisi pemain-pemain dari etnis Katalan atau secara administratif terdaftar sebagai warga Catalonia. Hal yang mengejutkan adalah Tim Nasional ini begitu kuat dan sempat mengalahkan beberapa negara mapan dalam pertandingan uji coba. Bukti bahwa sebenarnya Catalonia memiliki sumberdaya manusia yang cukup untuk menjadi sebuah negara, paling tidak ditinjau dari segi sepakbola.

Diluar pembentukan Timnas Catalonia yang terkesan formalitas justru lebih banyak kerugian yang akan didapat apabila Catalonia memisahkan diri dari Spanyol. Pertanyaan sederhananya bermain di liga manakah Barcelona apabila Catalonia merdeka? Tidak mungkin membuat “Liga Catalonia” dengan peserta hanya FC Barcelona dan RCD Espanyol. Sungguh pilihan yang tidak masuk akal. Bergabung dengan Liga Prancis yang notabene secara geografis sangat dekat juga bukan keputusan yang strategis karena sejatinya Barcelona membutuhkan Liga Spanyol-dan Real Madrid- untuk terus menunjukkan eksistensinya di Eropa.

El Clasico dulu dan kini

Salah satu yang paling kontroversial diluar pertandingan Real Madrid vs Barcelona adalah transfer bintang muda Argentina Alfredo Di Stefano pada tahun 1953. Setelah dinyatakan resmi dipinang Barcelona secara mengejutkan Di Stefona pindah ke Real Madrid. Ada indikasi campur tangan rezim pemerintah pada waktu itu. Mungkin ini adalah transfer paling diseselkan oleh Bracelona karena dikemudian hari Di Stefano menjadi tulang punggung Real Madrid dalam mengawali kesuksesannya di kejuaraan Eropa.

Tentu saja yang tidak kalah kontroversial adalah transfer Luis Figo pada tahun 2000 juga ke Real Madrid. Dipuja bak Nabi selama membela Barcelona secara mengejutkan pindah ke rival abadi dengan memecahkan rekor transfer saat itu. Luis Figo seketika dianggap ‘Judas’ yang tidak hanya dibenci warga Katalan tetapi oleh fans Barcelona di seluruh dunia.

Memasuki abad milenium Barcelona dikenal sebagai gudang pemain muda bertalenta yang berasal dari akademi La Masia. Masih belum selesai era Lionel Messi sudah mulai bermunculan generasi Thiago Alcantara sampai Sergio Roberto. Sedangkan Real Madrid dikenal sebagai klub yang begitu jor-joran dalam mendatangkan pemaian mahal dan acap kali menyianyiakan produk akademinya. 

Mungkin kia lupa pemain sekalibur Samuel Eto'o, Juan Mata atau andalan Chelsea yang tengah naik daun Marcos Alonso adalah jebolan akademi junior Real Madrid. Sejatinya Real Madrid memiliki moto yang sama dengan Barcelona. Jika Barcelona mengimplementasikan moto 'més que un club' (lebih dari sebuah klub) sebagai sebuah jati diri dan kebanggaan dengan apa yang dimiliki klub, sedangkan Real Madrid mewujudkan 'més que un club'-nya dengan menjadikan klub sebagai industri dalam sepakbola modern.

Agaknya dewasa ini pakem dua klub tersebut sedikit mulai bergesar atau bahkan saling mengadobsi. Barcelona sudah tidak malu-malu lagi untuk menebus 'pemain jadi' dengan harga fantastis demi sebuah trofi yang dulu identik dengan 'ritual' tahunan Real Madrid, sedangkan Real Madrid sudah tidak ragu-ragu lagi memberikan menit bermain pada pemain jebolan akademinya.

Simbol Rivalitas Abadi Sepak Bola Eropa

Mmbicarakan El Clasico tanpa membahas rivalitas ‘Duo Alien’, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sepertinya ada yang kurang. Messi adalah simbol keajaiban yang talentanya mungkin hanya terlahir 50 tahun sekali. Bahkan ada yang mengatakan tanpa berlatih Messi tetap sanggup memainkan sepakbola terbaiknya. Sedangkan Ronaldo adalah ukuran ideal dari seorang atlet. Apa yang Ronaldo perolah berasal dari kemauan dan profesionalismenya sebagai pemain. Anda tidak akan menemukan Messi yang lain dengan cara apapun tetapi anda bisa menciptakan banyak Ronaldo dengan bekerja keras. 

Terlepas dari rivalitas Messi-Ronaldo, El Clasico merupakan pertandingan yang paling ditunggu-tunggu di seluruh Dunia. Mungkin tensi panasnya hanya mampu disaingi oleh final Piala Dunia dan Final Liga Champions. Memiliki basis sporter besar, stadion megah dan pemain-pemain kelas dunia yang akan memamerkan atraksinya diatas lapangan hijau adalah momen paling ditunggu penikmat sepakbola diseluruh penjuru dunia. Kemenangan dalam El Clasico sama pentingnya dengan gelar juara, bahkan tidak ada yang menolak jika ada yang berkata, “boleh saja tidak memenangkan sebuah trofi asal jangan kalah di El Clasico”.