hqdefault_1_7.jpg
Foto: YouTube
Politik · 3 menit baca

Ahok Sudah Punya Bukti, Yang Lain Masih Janji

Ahok menjadi calon kuat yang akan memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2017. Para pesaingnya sibuk mencari cara untuk mengalahkannya. Hal ini sangat wajar, karena Ahok sudah punya bukti dan yang lain masih janji.

Dalam 2 tahun masa kepemimpinan Ahok, DKI Jakarta mengalami perubahan dahsyat. Perubahan itu bisa kita lihat dari berbagai sektor, diantaranya kebersihan sungai dan lingkungan, transportasi, birokrasi, pendidikan, ekonomi, sarana prasarana, dan sektor-sektor lainnya.

Diantara perubahan terdahsyat yang dihadirkan Ahok adalah sektor birokrasi. Selama ini, birokrasi DKI Jakarta bisa dikatakan menjadi lahan subur nan basah terjadinya paraktik korupsi. Contoh kecil yang biasa kita jumpai adalah pungutan-pungutan tidak jelas saat mengurusi KTP, surat izin, dan semacamnya.

Bayangkan, jika perorang saja memberikan pungutan tidak jelas sebesar Rp. 50.000 per dokumen, maka jika dikalikan 100 orang saja menjadi Rp. 5.000.000. Itu baru 100 orang saja, belum ratusan orang lain di satu kelurahan yang ingin membuat KTP, surat izin, dan dokumen semacamnya.

Ahok menjelaskan, “pungutan liar yang terjadi karena panjangnya rantai birokrasi”. Seringkali, surat pengantar di tingkat RT/RW dijadikan praktik tersebut. Oleh karena itu, Ahok menghapus fungsi RT/RW tersebut dan mulai menggantinya dengan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Kelurahan.

Di samping mempermudah masyarakat yang ingin mengurus perizinan dan dokumen segala macamnya, PTSP juga mempersempit gerak praktik koruptif pejabat birokrat. Jika perilaku koruptif pejabat masih terjadi, Ahok sudah memberikan layanan 24 jam untuk melaporkannya melalui aplikasi Qlue yang sudah dibuat Pemda DKI Jakarta dan akan menindak pejabat terkait.

Jika dibandingkan dengan gubernur-gubernur sebelumnya, pencapaian Ahok selama ini sudah luar biasa. Maka tidak heran, jika Ahok diganjar sebagai “Man Of The Year 2015” dari majalah Globel Asia, salah satu majalah bergengsi di dunia yang menjadikannya sebagai pemimpin terbaik se-Asia.

Apa lagi, jika dibandingkan dengan calon gubernur DKI Jakarta 2017, AHY dan Anies, rekam jejak mereka kalah jauh jika dibandingkan dengan Ahok di dunia pemerintahan. Baik Anies maupun AHY sama-sama belum pernah menjadi kepala daerah, sehingga secara kualitas belum teruji dan terbukti kepemimpinannya.

Memilih Kucing dalam Karung

Sebagai masyarakat cerdas dan selalu mengedepankan rasional dalam menentukan sikap, masyarakat dituntut lebih jeli dan teliti terhadap pilihan politik. Bukan hanya berdasarkan suka atau tidak suka, melainkan bukti nyata yang dihadirkan supaya kita tidak dianggap memilih kucing dalam karung.

Sebenarnya, visi-misi dari tiga pasangan calon Pilkada, AHY-Sylvi, Ahok-Djarot, dan Anies-Sandi semuanya baik. Bahkan, pasangan AHY-Sylvi membuatnya sampai dengan BAB 5 dan Anies-Sandi membuatnya dengan 3 pilar. Sedangkan, Ahok-Djarot membuatnya lebih terperinci dan terarah dengan membuat program berdasarkan per-sektor.

Namun, program AHY-Sylvi dan Anies-Sandi yang ditawarkan masih hanya sekadar wacana mereka ke depan nanti ketika menjadi gubernur. Hal ini menjadi absurd apakah semua rencana mereka benar-benar akan terealisasikan atau tidak.

Misalnya, AHY dalam mengatasi banjir memberikan solusi tanpa penggususran dan tidak akan menggusur warga. Faktanya, penggusuran merupakan solusi terakhir untuk mengembalikan fungsi sungai yang semestinya. Belum lagi, AHY untuk mengatasi banjir Jakarta akan membangun Rumah Apung ala kota-kota dunia. Saya rasa, semua program itu hanya menarik perhatian pemilih saja tanpa penjelasan yang lebih detail mengenai rencana tersebut.

Sedangkan Anies-Sandi, mereka memilik 3 program unggulan, yakni Kartu Jakarta Pintar Plus, program sembako murah, dan kewirausahaan untuk pemuda. Sebenarnya, ketiga program yang diberikan hanya meneruskan dari program Ahok-Djarot saja. Khusus hal kewirausahaan, Ahok menyatakan bahwa pemerintahaannya juga ada program pemberdayaan PKL, seperti di Jalan Tongkol dan sebentar lagi di Kemayoran akan ada Lenggang Jakarta yang kedua.

Berbeda dengan keduanya, Ahok-Djarot sebagai petahana dalam visi misinya hanya melakukan pengembangan dan melanjutkan program yang sudah mapan. Di samping itu, beberapa program baru juga mereka tawarkan, seperti Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul, fasilitas penunjang warga berkebutuhan khusus, terwujudnya fasilitas pejalan kaki yang benar-bear nyaman dan aman, dan program-program lainnya.

Bukan tidak mungkin, program-program baru dari Ahok-Djarot akan terbukti seperti yang sudah mereka lakukan selama ini. Hanya dalam dua tahun, mereka sudah mendapatkan kepuasan di hati warga Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei yang dilakukan SMRC yang menyatakan 75% warga DKI Jakarta menyatan puas terhadap kinerja Ahok-Djarot.

Siapa pun pilihan politik anda nanti, percayalah ia yang akan memimpin gerbong besar DKI Jakarta dengan segala permasalahan yang ada di dalamnya. Sebagai pemilih yang rasional, kita harus benar-benar memilah mana yang terbukti dan mana yang sekedar janji. Karena, Jakarta tidak hanya membutuhkan perencanaan saja, melainkan eksekutor yang mampu menghadirkan tindakan nyata untuk perubahan Jakarta yang lebih baik.

Dengan demikian, Ahok-Djarot sudah mempunyai bukti hasil kerja yang sudah dirasakan oleh warga DKI. Sedangkan AHY dan Anies baru sekadar janji-janji kosong. Jika sudah terbukti bekerja dan berprestasi, kenapa warga Jakarta masih ingin berpaling ke lain hati?