img-20170105-wa0000.jpg
Media · 3 menit baca

Ahok, Qureta, dan Vandalisme

Saya selalu yakin bahwa siapa pun yang punya sikap utuh, apa adanya, tentulah akan selalu jadi sasaran kebiadaban. Meski tak selamanya begitu, tapi fakta yang bisa saya simak, sebagian besar tindakan vandalisme terlihat hanya menyasar apa-apa yang sejatinya harus berdiri tegak, justru dibikin redup hingga hampir tanpa rupa lagi.

Tentang ini, saya jadi ingat stand up politik Ahok saat menutup acara debat kandidat Cagub DKI di Kompas TV. Bersama Djarot, mereka mengilustrasikan bagaimana orang-orang (pemimpin) bersih itu tak ubahnya dengan pohon-pohon lurus yang tumbuh di hutan, yang selalu jadi incaran para penebang.

“Hok,” ujar Ahok menirukan kata-kata teman bapaknya di kampung, “kamu tahu nggak, di hutan, kalau kita sama bapak pergi potong kayu, pasti dipesanin: cari yang paling lurus untuk dipotong. Jadi kamu gak usah heran (kalau) banyak yang mau memotong kalian berdua; karena kalian ini terlalu lurus di dunia politik.”

Benar juga ya. Setidaknya hari ini Ahok membuktikan kata-kata teman bapaknya itu. Sosok pemimpin yang memang pada dasarnya terlahir sebagai orang lurus ini memang tak sedikit menuai ancaman “penebangan”. Sudah banyak pihak yang berusaha menjegalnya, terutama yang sangat mencolok hari ini di momentum Pilkada DKI Jakarta.

Tapi mau gimana lagi. Sebagaimana yang Ahok sendiri sadari, dia dan Djarot tak hanya lurus di dunia politik, tapi sekaligus menjadi musuh bebuyutan para pencuri uang rakyat. Maka wajar kiranya jika para “penebang” itu mengincar mereka berdua, yang ingin kalau praktik korupsi itu tidak diganggu-gugat sedikitpun.

Seperti Ahok, Qureta pun mengalami hal yang sama. Sejak kemarin, beragam ekspresi yang apa adanya yang tertuang di laman Qureta, tak bisa dinikmati seperti sebelum-sebelumnya.

Ya, tak semua orang bisa mengakses laman Qureta lagi. Sejumlah tulisan ciamik dari Quretans serasa sudah mahal harganya untuk sekadar dicicipi walau sesaat. Seperti tiadanya secangkir kopi, hari pagi jadi hambar tanpa sajian-sajian lezat dari Quretans yang kreatif.

Sebagaimana informasi yang diterima oleh pihak Qureta dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Qureta tidak ada dalam daftar (blacklist) yang wajib Kominfo blokir sebagaimana situs-situs penyebar hoax, fitnah, isu-isu SARA lainnya itu. Pihak Kominfo pun sudah membuat memo agar semua provider mencabut (normalisasi) pemblokiran atas laman Qureta.

“Kami sangat menghargai Pak Menteri Rudiantara yang menelepon kami langsung dan menjelaskan bahwa ada kesalahan dalam soal pemblokiran terhadap Qureta,” tweet @qureta (04/01).

Meski demikian, terutama bagi Quretans sendiri, hal ini tetap saja tak patut. Justru akan sangat berbahaya bagi perkembangan literasi Indonesia ke depannya jika pemblokiran hanya ditentukan sepihak oleh Menkominfo dan jajarannya. Ini pun juga akan berpengaruh pada kedewasaan demokrasi kita sendiri.

Pihak Qureta sudah melayangkan surat. Kominfo pun sudah menyebar memonya ke masing-masing provider untuk menormalkan kembali pemblokiran laman Qureta. Akan tetapi, sampai hari ini laman Qureta tetap saja tak bisa diakses.

Dari kekecewaan Quretans atas pemblokiran Qureta secara sepihak ini, apa yang menimpa Ahok, nyatanya juga sedang menimpa Qureta. Baik Ahok maupun Qureta, tegas saya katakan bahwa keduanya sama-sama korban penjegalan tanpa proses tabayyun.

Alih-alih ber-tabayyun, seperti MUI, Kominfo secara langsung memberi cap bahwa situs Qureta itu “haram”. Inilah yang kemudian menjadi dasar bagi provider selaku operator pemerintah dalam melakukan blok. Ingat alasan Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas Ahok? Kurang lebih begitu. Dasar cap tanpa proses tabayyun itulah yang melandasi tindakan mereka.

Memang, seperti kata Ahok, yang (punya sikap) lurus selalu akan jadi sasaran orang-orang yang tidak (bersikap) lurus. Ibarat pohon, para penebang pohon di hutan selalu mengincar pohon-pohon yang lurus untuk ditebang.

Jadi, sekali lagi, baik Ahok ataupun Qureta, keduanya nyata sebagai korban kriminalisasi. Keduanya adalah korban dari tindakan vandalisme yang kini tumbuh subur di negeri tercinta kita ini. Dan yang kita butuhkan bukan lagi sekadar mengecam, tapi ikut terlibat dalam perlawanan rill atas segala bentuk vandalisme yang ada.

Bebaskan Ahok! Save Qureta! Tolak dan Lawan Vandalisme!