44879.jpg
kilatnews.com
Politik · 3 menit baca

Ahok Kalahkan Ahok


Warga Jakarta sudah melakukan hak pilihnya di Pilkada putaran kedua. Dari perhitungan cepat sementara yang dilakukan berbagai lembaga survei, pasangan cagub dan cawagub nomor urut tiga, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno unggul dibanding pasangan cagub dan cawagub nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.

Walau hanya perhitungan cepat sementara, setidaknya ini menggambarkan perhitungan real count yang dilakukan oleh KPU nanti. Selisih presentase suara yang cukup jauh, menunjukkan bahwa kemenangan berada di tangan Anies-Sandi.

Saya bukan warga Jakarta, tetapi secara tidak langsung saya sering mengikuti drama Pilkada ini. Sebelumnya pun, saya juga sering mengikuti perkembangan Jakarta. Ini tidak lain daripada satu sosok yang menjadi perhatian, yaitu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Saya tidak begitu mengenal sosok ini. Ketika dirinya mendampingi Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta 2012, saya pun tidak mengetahui pasti track record-nya. Setelah pasangan ini terpilih, barulah saya dikit demi sedikit mengetahui siapa Ahok.

Salah satu perawakan yang indentik dengan sosok Ahok adalah tempramental. Ketika menjadi Wakil Gubernur era Jokowi dulu, beberapa video Ahok sempat viral. Dalam video itu dirinya marah-marah kepada para Pegawai Negeri Sipil yang dinilai tidak becus.

Saya pun sempat heran dengan karakter yang demikian. Tetapi keheranan saya berubah menjadi kekaguman. Karakter seperti ini sangat jarang dimiliki oleh pejabat publik yang lain.

Setelah dirinya menjadi gubernur menggantikan Jokowi yang terpilih jadi presiden, karakter seperti ini tetap melekat dalam kepemimpinannya. Ahok memang orang yang tidak bisa menggunakan idiom sabar ketika melihat ketidakbenaran. Dirinya tidak bisa berpura santun ketika menghadapi ketidakbecusan.

Dirinya bisa "meledak", marah, teriak-teriak bahkan ketika di hadapan media sekali pun. Tetapi ini berangkat bukan kerena tanpa alasan. Ini adalah bentuk ketegasan.

Sebagai seorang pejabat publik, mungkin ada sebagian yang menilai ini berbahaya dalam estetika komunikasi. Tetapi bagi saya, yang terpenting adalah kinerja. Buat apa berestetika secara komunikasi tapi bobrok dalam bekerja.

Sosok Ahok yang tempramen ini sering Ia tunjukkan dalam beberapa kasus. Misalnya ketika dirinya dihadapkan dengan kasus Sumber Waras. Dalam kesempatan wawancara dengan beberapa media, Ahok membentak-bentak, bahkan memukul kertas laporan audit dari BPK.

Karakter yang demikian ternyata tidak berumur panjang dalam karir politik Ahok. Bagi sebagian kalangan terutama lawan politiknya, karakter ini dijadikan alat untuk "menjatuhkan". Opini publik digiring untuk mencap Ahok dalam stigma orang yang kasar.

Bukan hanya sampai di situ, isu etnis dan agama pun dimunculkan ke ruang publik. Terlebih ketika berdekatan dengan momentum Pilkada.

Tetapi, Ahok tidaklah orang yang suka berdrama. Walau sebagian opini sudah mencapnya orang yang kasar, tetapi karakter tempramen dalam menghadapi ketidakbenaran tetap ia pegang.

Hingga sampai pada puncak ketika Ia dinilai menista agama. Dirinya diadili bukan hanya di pengadilan, tapi juga dalam pandangan. Kasus ini menjadi perhatian sebagian umat. Aneka rupa aksi dilakukan atas nama Bela Islam berjilid.

Karakter seperti ini jadi senjata makan tuan bagi Ahok. Opini publik yang terbentuk berpengaruh terhadap elektabilitasnya. Walau dalam beberapa kesempatan terakhir saya menilai Ahok tidak lagi dalam karakter yang demikian, tapi stigma kasar dan penista sudah tertanam dalan sebagian pikiran masyarakat.

Satu stigma mengaburkan kinerja. Bila saya cermati, dalam hal teknis dan program kerja, Ahok tiada dua. Dirinya begitu menguasi seluk-beluk permasalahan Ibu Kota. Apapun persoalan yang ditanyakan tentang Jakarta, ia mampu menjawab. Kebijakan-kebijakannya pun lebih berupa nyata dan mudah dipahami.

Dalam menyalurkan kebijakan melayani masyarakat, Ahok protagonis. Ketika dihadapkan dalam ketidakbenaran, ia sangatlah antagonis. Hal kedua inilah yang menjadi batu sandungan dirinya untuk kembali memimpin Jakarta lima tahun ke depan. Kegagalan di Pilkada ini lebih dikarenakan dirinya sendiri. Bisa dibilang Ahok mengalahkan Ahok.

Selain dicap kasar, drama Pilkada juga digiring dalam plot agama dan etnis. Sudah kasar, non-muslim, bukan keturunan pribumi pula, kira-kira alasan-alasan non-rasional seperti ini yang mempengaruhi suaranya dalam Pilkada putaran kedua kali ini.

Tetapi apapun itu, selayaknya warga Jakarta kalau dirasa punya hati, patut berterimakasih pada sosok yang satu ini. Bagaimanapun, dilihat atau tidak, dirasakan atau tidak, Ahok sudah memberikan sebuah perubahan. Kalijodo, kali ciliwung, dikit-dikit demi sedikit sudah diatasi permasalahannya. Ketika jam kerja, Ahok pun siap menerima warga di balai kota. Mendengarkan keluhan, memberikan masukan.

Semoga hal-hal postif terutama dalam kemampuan kerja dan kebijakan mampu diteruskan gubernur selanjutnya. Sekali lagi, saya bukan warga Jakarta, tetapi saya berterimakasih kepada Ahok. Dirinya mengajarkan bahwa bukan hanya sebagai pejabat publik tapi juga berotak pelayan publik.

Sebagai pelayan publik, pelaksana program, Ahok memang baik. Tetapi sebagai politikus, dirinya masih perlu belajar. Andai saja Ahok bisa berakting komunikasi ala politik dan juga mendapat hidayah, mungkin hasilnya berbeda. Mungkin saat ini warga Jakarta tidak perlu pengalaman, yang penting adalah agamanya, etnisnya, dan pola komunikasinya.

Patut ditunggu gebrakan nyata apa yang dilakukan oleh Anies-Sandi lima tahun ke depan. Perpaduan intelektual moderat dan pengusaha sukses kiranya bisa menghasilkan Jakarta yang cerdas dan juga sejahtera. Terimakasih Ahok-Djarot, selamat Anies-Sandi.