36000Kerukunan-Agama.jpg.jpg
www.google.com
Agama · 5 menit baca

Agama, Konflik, dan Semangat Perenialisme

Manusia tadinya satu-kesatuan, kemudian mereka berselisih (QS: 2:213)[1]

Sering kita dengar atau kita baca, bahwa agama hadir bagi nilai-nilai kemanusiaan. Agama hadir bagi kehidupan yang lebih baik.  Namun saat ini kita mendengar kembali dari berita, dari media sosial bahwa agama justru menjadi biang tragedi kemanusiaan. Agama menjadi biang penindasan dan pengusiran warga dari tanah kelahiranya.

Lantas masih tepatkah jargon-jargon yang selama ini kita dengar tentang agama? Jangan-jangan itu semua hanya asumsi semata? Ataukah sebaliknya, mungkin justru karena ada yang salah dengan praktik keberagamaan manusia itu sendiri, sehingga melenceng dari apa yang sudah agama gariskan?

Terkait dengan kegelisahan tersebut tentunya sangatlah wajar manakala kita sebagai manusia khususnya yang menganut agama tertentu ingin mempertanyakannya. Bahkan tak aneh pula manakala kita ingin menantang diri sendiri untuk mempertanyakan hal tersebut dengan maksud untuk menguji keyakinan diri kita sendiri.

Lebih dari itu, dari perefleksian akan hal ini pula kita sebenarnya justru dapat mengetahui kenapa orang yang melakukan praktik beragama justru terkadang rentan terseret kedalam kemelut konflik. 

Bagi kalangan sosiolog menganggap munculnya konflik dalam kehidupan sosial manusia merupakan hal yang alamiah. Hal itu semata karena manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu dalam lingkunganya yang pemenuhannya terkadang tidak selalu ajek dapat diperoleh sesuai dengan kehendaknya sehingga memicu kekecewaan dalam batin yang kemudian tertuang dalam tindakan yang disebut konflik.

Seringkali ketidaksesuaian antara harapan dan keinginan tersebut karena adanya perbedaan ataupun pertentangan dalam hal tertentu. Dalam konteks agama pertentangan tersebut dapat berupa pertentangan ideology, kepercayaan bisa juga karena menyangkut perbedaan identitas.

Ada banyak hal terkait dengan sebab-sebab yang melatarbelakangi konflik terutama dalam praktik beragama, salah satunya karena adanya perasaan saling curiga.

Rasa curiga dalam hal ini muncul karena adanya perbedaan status dan ideologi tadi sehingga menimbulkan maindset oposisi biner; kelompok bukan kelompok, kawan atau lawan, beriman atau kafir. Bagi yang satu kelompok dianggap kawan sebaliknya bagi yang berbeda identitasnya seringkali dianggap membahayakan.  

Contoh kongkrit dari adanya kecurigaan antar umat beragama tersebut ialah hadirnya sikap islamophobia di kalangan orang-orang barat terhadap orang-orang muslim. Bahkan dalam sekala yang lebih besar hadirnya sikap tersebut hingga memicu penerapan kebijakan politik yang diskriminatif dengan cara melakukan pelarangan beberapa umat muslim untuk memasuki negara tertentu.

Indonesia sebagai negara yang heterogen tentunya memiliki potensi yang cukup besar bagi terciptanya konflik antar umat beragama akibat dari kecurigaan tersebut. Terlebih bila harus menimbang konteks zaman sekarang ini dimana teknologi dan dunia maya sudah merebak sedemikian masifnya, maka peluang tersebarnya ajakan, hasutan, untuk saling membenci dan curiga terhadap umat yang berbeda akan terasa semakin masif pula.

Belum lagi penyebaran hoax yang semakin menjamur akhir-akhir ini, tentunya turut menambah potensi terjadinya konflik tersebut. Untuk itu diperlukan upaya untuk membangun ketahanan maindset yang positif bagi masyarakat terhadap fakta heterogenitas terutama agama yang berada di negara ini. Hal yang mula-mula ialah dengan mengetahui terlebih dahulu faktor-faktor yang memicu kecurigaan tersebut.

Kecurigaan adalah sikap yang didasari atas prasangka, ketidak percayaan, bahkan kewaspadaan yang berlebih atas hal tertentu yang dianggapnya dapat mengancam keberadaanya. Terkait dengan konflik antar agama, maka bukan hal yang tidak mungkin manakala salah satu faktor dari kecurigaan tersebut datang dari adanya sikap kekurang percayaan terhadap adagium bahwa agama-agama itu mengajarkan kebaikan.

Penyebab hal itu bisa terjadi karena adanya penanaman ideologi yang oposisi biner bisa juga karena adanya fakta yang terpampang pada realitas masyarakat. Pada tataran ideologi para pemuka agama seringkali menanamkan kepercayaan bahwa hanya agamanya saja yang benar, baik, dan diakui oleh Tuhan sedangkan yang lain tidak sempurna, salah, dan tidak diakui oleh Tuhan, sehingga menyalahkan, merendahkan, serta mencurigai agama lain dianggap hal yang wajar.

Sedangkan dalam tataran realitas sosial, jelas klaim ketidak baikan dari agama tersebut disandarkan pada fakta sosial terkait dengan tindakan yang tidak berprikemanusiaan dari umat agama tertentu terhadap umat bergama lainya. Pengaruh ini cukup kuat sehingga memunculkan maindset bahwa agama tertentu tersebut primitif, teroris, barbar, dan keji.

Jalan yang lebih efektif untuk menciptakan resep mujarab bagi terciptanya mainset yang positif dalam memandang perbedaan agama di negara ini ialah dengan cara menyemai gagasan-gagasan yang positif tentang toleransi dan empati tentang keberagamaan baik dari intelektual yang ada di negeri ini maupun oleh orang bijak lainya. Salah satu yang memiliki pandangan cukup bijak dalam memandang perbedaan agama-agama di dunia ini ialah hadir dari pandangan kaum perenialis. 

Bagi mereka agama yang berbeda-beda ini bersumber dari yang satu, yakni Tuhan yang mutlak. Dari-Nya kebaikan yang tertuang dalam “Agama” memancar dan ditangkap oleh manusia dengan kondisi, historisitas, dan konteks yang berbeda-beda, sehingga bagi kaum perenialis mengatakan bahwa perbedaan dalam agama itu merupakan keniscayaan.

Sebagaimana cahaya matahari yang tidak memiliki warna namun manakala hadir dan menghinggapi benda-benda materi menciptakan spektrum warna-warna yang berbeda, daun menjadi hijau, laut menjadi biru dan bunga berwarna merah, meski begitu keseluruhanya adalah bersumber dari yang satu.

Begitu juga dengan agama-agama di dunia ini, oleh karena sumbernya dari yang satu, maka seluruh agama memiliki visi yang satu pula yakni kebaikan bagi manusia.

Namun oleh karena rentangan sejarah dan waktu yang cukup lama, terkadang ajaran atau visi original dari Yang Mutlak tersebut terkadang justru bergeser kedalam nilai-nilai yang kadang bertentangan dengan kebaikan. Untuk itu manusia-manusia beragama hendaknya senantiasa menggali nilai-nilai kebaikan dari agama tersebut sehingga dapat kembali pada fitahnya yang awal.

Perenilaisme juga tidak menafikan bahwa secara eksoteris agama-agama itu berbeda, meski begitu didalam perbedaan tersebut terdapat nilai esoteris yang sama yang melingkupi agama-agama yang berbeda tersebut.

Nilai esoteris tersebutlah yang hendaknya menjadi fokus para penganut agama dalam memandang perbedaan tersebut. Maka bagi mereka hendaknya perbincangan mengenai agama tidak untuk dicari perbedaanya, namun justru dicari titik temunya, yakni visi tentang kebaikan tersebut.

Adanya semangat tersebut tentunya patut untuk di teladani bagi umat beragama ini untuk saling introspeksi dan menggali kebaikan yang tertuang dalam agamanya masing-masing. Di samping tentunya saling menghargai perbedaan dan kebenaran dari agama lainnya.

Maka hubungan antar agama hendaknya tidak lagi dilakukan dengan cara menyampuri, merendahkan apalagi untuk memaksa agama lain untuk memasuki agamanya. Para pemeluk agama perlu untuk menggalih dan menyelaraskan agamanya pada nilai-nilai baik untuk kepentingan kehidupan manusia bersama.

Harapanya dengan memiliki mainset seperi itu maka umat beragama yang mendiami wilayah tertentu terutama yang heterogen seperti Indonesia tidak mudah terpancing untuk menyalahkan agama sehingga memicu konflik baru. Karena tidak mustahil konflik seringkali muncul bak rentetan fusi nuklir yang kemudian meluluh lantakan sendi-sendi kerukunan.

Khususnya saat ini dimana konflik terkait agama sering terjadi, semoga saja konflik yang terjadi di Negara Myanmar ini tidak sampai memicu ledakan konflik antara sesama bangsa Indonesia yang saat ini sedang menjadi trending topik baik bagi yang berhati tulus maupun yang berakal bulus.

Untuk itu sebagai manusia yang senantiasa rindu akan kebijaksanaan kita harus mafhum bahwa terjadinya konflik pada kehidupan ini merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia, sehingga kita tidak terlalu berlebihan dalam menilai terlalu negatif terhadapnya, apalagi berniat untuk memperpanjang kemelutnya.

Namun lebih dari itu mawas diri untuk tidak terjerumus dalam konflik tentunya jauh lebih manusiawi, karena menjaga kerukunan dan persatuan antar sesama manusia adalah bentuk dari rasa syukur kita kepada Tuhan karena telah diberi kehidupan. 

[1] Redaksi ayat ini dikutip dari M. Quraish Shihab. Membumikan Al-Qur’an. Bandung:Mizan. 2014. Hal. 346