17322tingkatan-sabuk-karate-putih-soobahkdo.biz_.jpg.jpg
inspiring.id
Agama · 5 menit baca

Agama dan Syndrome Ban Putih

Namanya Irfan Amalee. Atribusi yang sering dilekatkan adalah sebagai aktivis perdamaian, pegiat media, hingga praktisi pendidikan.

Akhir Agustus 2017, saya dan beberapa teman di Yogyakarta berdiskusi dengan penggagas Peace Generation ini. Topiknya terkait dengan perubahan dunia dan fenomena artificial intelligent; potensi, ancaman dehumanisasi, hingga resistensi umat beragama.

Sampai di salah satu bagian, pembicaraan menyinggung tentang trend baru umat beragama. “Ada gelombang besar tentang kesadaran beragama yang baru. Sekarang orang berproses untuk mendalami agama dengan sangat cepat. Tiba-tiba berubah. Hijrah. Di mana-mana ada syndrome ban putih,” tutur Irfan.

Sontak, beberapa dahi mengernyit dan ekspresi wajah berubah mendengar istilah ini. CEO Pelangi Mizan ini lalu meneruskan paparannya. Istilah syndrome ban putih terinspirasi dari tingkatan sabuk dalam olahraga karate. Sabuk berwarna putih menandakan awal kelahiran dari sebuah benih, merupakan seorang pemula untuk mencari pengetahuan.

Filosofi sabuk putih merupakan awal dari siklus kehidupan dan merupakan representasi dari benih yang berada di bawah salju musim dingin. Tahapan setelahnya masih ada delapan tingkatan sabuk; kuning, orange, hijau, biru, ungu, coklat, merah, hingga hitam.

“Para pemakai ban putih ini merasa keren, tapi semakin bannya berubah, dia belum apa-apa. Di mana-mana pemula seperti itu,” ujarnya. Barulah kami paham. “Demikian juga di komunitas anak punk. Anak-anak yang pemula itu lebay dari segi penampilan, rambut, tato, pakaian, dan atribut lainnya. Tapi tokoh ideolog-ideolog punk, penampilannya biasa saja,” kata Irfan.

Fenomena syndrome ban putih di kalangan umat beragam di Indonesia semakin terasa di era pasca reformasi. Muncul semangat dan animo beragama yang yang luar biasa. Trend beragama yang sebagian besarnya muncul bukan karena kesadaran mendalam ini, sering terjebak pada serangkaian ritus dan simbolisasi.

Tak ada yang salah dengan trend ini. Wajar saja bagi yang baru ‘berhijrah’ dan mendalami agama merasa sangat antusias. Lihat saja beberapa figur yang memutuskan untuk hijrah.

Tahapan dengan semangat beragama yang menggebu-gebu ini akan segera hilang ketika mereka terus mendalami agama secara proporsional dan memperluas wawasan. Ibarat padi yang semakin berisi semakin menunduk.

Menjadi masalah ketika oknum yang baru mendalami agama ini merasa bahwa dirinya yang paling beragama. Merasa paling suci setelah meninggalkan dunia kelamnya.

Kecenderungan ritus dan simbolik ini menular dalam seluruh aspek kehidupan. Seolah-olah, apa yang dipraktikkan selama ini belum islami. Semuanya ingin diislamkan dengan simbol-simbol bernuansa islami. Maka melahirkan bank syariah, hotel syariah, wisata syariah, sekolah Islam terpadu, hijab syar’i, gaya penampilan, pilihan kata bertutur, dan seterusnya.

Tak jarang hanya simbol belaka dan melupakan substansi. Pelaksanaan syariat Islam di Aceh termasuk di dalamnya, betapa qanun-qanun yang diterapkan sangat formalistik dan simbolik.

Kalangan syndrome ban putih ini memiliki energi berlebih untuk berdakwah guna memperbaiki sekelilingnya yang dianggap belum islami.

Pernyataan nabi yang menyebut ‘bahwa siapa yang melihat kemungkaran, maka harus mencegahnya dengan tangan, lisan dan hati’ terpatri kuat di benak mereka. Mereka aktif berperan melakukan amar makruf dan nahi mungkar.

Hal ini patut diapresiasi. Akan tetapi, jauh lebih baik lagi jika dibarengi dengan paham keagamaan yang lebih mumpuni dan tidak mudah menghakimi secara hitam putih.

Pernah suatu magrib di sebuah masjid di Yogyakarta. Seusai shalat, saya ngobrol dengan seorang teman perempuan di bangku pekarangan masjid yang ramai dilalui para jamaah.

Tiba-tiba saja, didatangi oleh seorang pria dengan atribut sangat islami (celana di atas mata kaki, berjenggot, berkopiah, dan menenteng beberapa majalah Islam). Menyalami tangan saya, menanyakan nama. Lalu menyelidik, “Mas dan mbak ini statusnya apa? Apakah sudah menikah?”

Tentu saja saya dan teman perempuan ini kaget, karena sedari tadi kami hanya ngobrol santai di tempat sangat terbuka dengan banyak manusia yang juga duduk di bangku sebelah kiri dan kanan.

Kemudian, pria ini dengan penuh semangat menjelaskan tentang ikhtilat. “Tau ikhtilat itu apa?” tanyanya yang langsung dilanjutkan dengan uraian panjang, bahwa laki-laki dan perempuan bukan mahram yang berdua-duaan itu dosa, meskipun ada keperluan dan di tempat seperti ini.

Dalam banyak hal, mereka yang terjangkit syndrome ban putih memahami teks agama secara literal-tekstual, dengan modal semangat mengamalkan Islam, dan meninggalkan rasio. Menggunakan akal dianggap bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadis serta kehidupan otentik Nabi Muhammad bersama sahabatnya.

Padahal bukankah pesan nabi, ‘Agama adalah akal.’ Maka di kasus lain, tak mengherankan misalkan ada yang berpemahaman bahwa perbudakan diperbolehkan dalam Islam atau ada juga yang menganut paham perempuan bepergian harus selalu disertai mahram.

Al-Qur’an menuntut umat Islam untuk senantiasa memperbaharui pemahaman, meluaskan wawasan, dan menggunakan akal pikiran yang jernih. Misalkan dalam QS. al-Maidah: 14; “Mereka (sengaja) melupakan sebahagian pesan dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.”

Terkait ayat itu, Said Hawa menyatakan bahwa melupakan sebagian dari agama akan membawa kepada perpecahan dan permusuhan. Kelompok tertentu mengetengahkan sisi ritual, kelompok lain sisi mistikal, kelompok lain sisi sosial, kelompok lain sisi intelektual, dan seterusnya.

Para pemula yang biasanya baru memahami ajaran agama pada sebagian sisi ini mengabaikan banyak sisi lainnya. Bahkan terkadang mengabaikan esensi universalitas agama itu sendiri.

Dalam memahami teks agama, siapapun hendaknya saling berlapang dada dan menghindari sakralisasi. Pemaknaan terhadap teks kitab suci merupakan buah dari perenungan dan pemikiran manusia yang sifatnya subjektif. Kebenaran hasil pemahaman manusia ini berada dalam wilayah vorgrif, vorhabe, dan vorsicht. Kesemua itu dipengaruhi oleh konteks sosio-historis individu yang beragam.

Bagaimanapun juga, manusia merupakan makhluk yang dialektis; dipengaruhi dan ikut mempengaruhi. Pemahaman manusia juga sangat tergantung dengan akumulasi pengetahuan dan pengalaman sebelumnya. Implikasinya, benar dan salah merupakan hasil dari sebuah bentukan pemahaman dan punya konteksnya masing-masing.

Nurcholish Madjid mengambil inspirasi menarik dari QS. Yusuf: 67. “Jangan masuk dari satu pintu, tapi masuklah dari berbagai pintu.” Ayat itu merupakan perkataan Nabi Ya’kub  yang memerintahkan anak-anaknya untuk mencari Yusuf di istana Fir’aun.

Perintah masuk melalui semua pintu ini bermakna bahwa jika masuk hanya melalui satu pintu, maka apa yang dicari tidak akan ketemu. Namun dengan berpencar melalui banyak pintu, akan semakin mudah menemukan. Dengan diawali persetujuan bersama bahwa siapapun yang menemukan, maka dia mesti mau berbagi dengan yang lain. Karena penemuan ini merupakan buah dari usaha bersama.

Demikian halnya umat beragama dalam mencari kebenaran secara terus-menerus. Tidak berhenti pada simbol-simbol belaka layaknya pemegang sabuk putih.