65499.jpg
Foto: Qureta
Lingkungan · 4 menit baca

Abai pada Narasi Lokal
Refleksi Hari Pertama Workshop Konservasi Hutan dan Pelestarian Lingkungan


Workshop Qureta-Belantara tentang Konservasi Hutan dan Pelestarian Lingkungan di Pontianak, Kalimantan Barat baru saja dimulai. Di hari pertama ini—dan mungkin hari-hari selanjutnya—forum berkutat dengan memaknai dan memahami alam sebagai liyan. Ini mengingatkan saya pada sirkularitas pekerja kantoran di kota besar seperti Jakarta. Masyarakat perkotaan seringkali dipandang sebagai individu yang human being sentris karena terlalu “menyerah” pada rutinitas.

Forum semakin meneguhkan pendapat pribadi saya bahwa memaknai alam sebagai liyan idealnya harus didahulukan dengan keterlibatan individu dalam sistem masyarakat. Dalam masyarakat, individu dapat paham bahwa ada tata aturan—berupa hukum adat, termasuk di dalamnya sanksi-sanksi sosial—dalam menghadapi alam.

Narasi Lokal

Kesan selama ini individualisme masyarakat perkotaan berseberangan dengan kebudayaan asali. Lewat forum hari ini, saya semakin yakin bahwa dalam menghadapi alam, dibutuhkan setan. Ya, setan yang bernaung pada hutan-hutan sehingga menjadikan hutan tempat yang sakral. Bukan hanya hutan, tapi juga unsur-unsur alam lain.

Misalnya sakralitas air, beras, dan batu-batuan. Masyarakat individu yang multikultur dan dekat dengan kekuatan supra-natural membuat individu lebih terjaga dalam bertindak; lebih bijaksana dalam mengolah alam sesuai dengan kebutuhan.

Saya ingat kembali pada penjabaran C.A van Peursen tentang mitos. Mitos menurutnya adalah jaminan masa kini. Misalnya mitos mengenai pelestarian alam pada “hutan larangan”. Saya pernah datang ke kampung adat Kuta di Ciamis, Jawa Barat. Di sana, terdapat sebuah kawasan hutan yang disebut dengan “hutan larangan”.

Keberadaan “hutan larangan” lahir dari mitos tentang kerajaan gaib. Di hutan itu, siapapun tak boleh menebang pohon, bahkan tak boleh menggunakan alas kaki supaya tidak merusak hal-hal kecil—bahkan ranting mati sekalipun. Tak sembarang orang bisa masuk ke dalam hutan. Mitos tentang kerajaan gaib itulah yang mendukung pelastarian hutan.

Dengan kata lain, mitos menjadi pedoman hidup; menjadi landasan bertindak manusia. Itu yang kita bisa temukan dalam upacara seren taun. Keagungan hasil bumi membuat manusia lebih menghargai alam.

Beberapa cerita tentang lokalitas yang disampaikan Bapak Rio dari Belantara membuat saya semakin yakin bahwa kita harus memanfaatkan multikulturalisme Indonesia untuk tujuan konservasi. Narasi-narasi lokal digunakan untuk menyelamatkan lingkungan karena lebih menyentuh aspek terdalam individu sebagai bagian dari suatu sistem masyarakat.

Kalau narasi-narasi lokal tidak digunakan, masyarakat tidak lagi punya kedekatan dengan budayanya sendiri; masyarakat tercabut dari asalnya; masyarakat menjadi tidak tahu bahwa budayanya sendiri punya paham sendiri-sendiri tentang laku konservasi. Lambat laun bisa-bisa masyarakat Jawa Barat, misalnya, tidak tahu bahwa tindak pemuliaan beras sebagi pangan utama bisa didapat dengan mengenal Dewi Sri.

Faktanya, dalam perkembangan, penanggulangan isu perlindungan alam sangat sentralistik dan terkesan proyekan. Berbagai instansi melakukan upaya konservasi dengan mengikutsertakan masyarakat lokal. Tentu karena istilahnya proyekan, maka ada jangka waktu yang ditentukan. Dengan kata lain, proses belajar masyarakat lokal untuk mendalami konservasi dibatasi. Siapapun kalau dikejar waktu tentu tidak akan maksimal melakukan apa yang dikerjakannya. Itu mengapa sistem yang sentralistik ini tidak selalu berhasil (atau selalu tidak berhasil).

Konservasi Sebagai Sistem Inklusif

Konservasi pada akhirnya adalah penerapan berbagai ilmu secara integratif. Layaknya sebuah sistem inklusif yang menuntut beragam pihak untuk bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup yang sehat dan baik bagi masa depan.

Bapak Santiaji Wijaya dari Belantara juga menegaskan bahwa idealnya, menghadapi isu lingkungan mestilah kita membangun forum-forum. Dalam forum itu, seluruh elemen masyarakat mempunyai nilai-nilai dan ide-ide kecil yang ditawarkan untuk bersama mencapai satu tujuan.

Dalam forum tersebut, tidak bisa ada pihak yang berbeda tujuan. Kalaulah kita selama ini akrab dengan jenis birokrasi yang tidak mendukung pelestarian lingkungan, konservasi sesungguhnya tidak bisa bekerja di antara sistem seperti itu. Atau lebih tepatnya, kita tidak boleh membiarkan konservasi dikendalikan sistem seperti itu.

Sifat forum haruslah kolektif-kolegial. Tidak ada atasan dan bawahan; pemangku modal dan sebaliknya; penguasa dan yang dikuasai. Semua pihak harus saling membuka diri. Hal itu mengingatkan saya pada jenis demokrasi deliberatif, tempat forum berisi orang-orang bertelinga lebar—dalam arti pendengar yang baik.

Saya begitu percaya bahwa dengan adanya keterbukaan, maka akan selalu ada jalan. Keterbukaan dalam hal ini berarti siapapun sudi menyediakan diri untuk liyan; membuka diri pada pengetahuan.

Ketika sekelompok orang punya waktu, dan sekelompok orang lain punya cara mengolah eceng gondok, misalnya, maka sekelompok orang pertama harus menyediakan diri untuk diajari, didampingi, bahkan berjalan beriringan merawat peradaban. Diajari berarti menyingkirkan gengsi.

Hal itu saya pandang sebagai problem lembaga swadaya masyarakat kekinian. Sebetulnya, siapa harusnya yang mendampingi siapa? Program pendampingan yang dilakukan selama ini hanya sebatas menemani masyarakat, bahkan kadang memaksakan ide-ide yang mungkin dianggap masyarakat lokal terlalu rumit untuk diterima.

Saya sepakat jika ada yang menyebut bahwa masyarakat—khususnya di Indonesia—harus menyingkirkan ego sektoral, sebab imbasnya, ego sektoral hanya akan membawa masyarakat menuju pengotak-kotakan. Saya mengerjakan A, Anda mengerjakan B, seolah semuanya tidak punya koneksi; seolah kita tidak punya mimpi baik bersama untuk bumi tercinta.

Kita mesti berpikir taktis sekaligus strategis. Mumpung dunia ini sudah terkoneksi dengan mudah, kenapa tidak kita gunakan dengan baik? Saya (hanya) bisa menulis, menularkan ide dan refleksi tentang materi hari ini pada Anda. Tentu berkaitan dengan konservasi ini ada banyak hal berbeda lain yang bisa orang lain lakukan. Semoga fieldwork ke Kubu Raya besok bisa lebih menggugah.