29519.jpg
Cerpen · 4 menit baca

1908

Sutjatmi duduk termenung meratapi keadaan negerinya yang sudah semakin tak berdaya. Penjarahan atas harta dan sumberdaya semakin parah. Tanah-tanah perkebunan dirampas dengan paksa. Orang-orang pribumi dipekerjakan tidak berupah.

Bukan tanpa perlawanan, tapi belum satunya pemikiran massa dan masih banyak kepentingan yang dibawahi oleh orang-orang besar. Si penjilat bermuka dua, di hadapan rakyat, berpidato menyuarakan kemerdekaan, tapi dari belakan layar saling bersulang dengan para petinggi pemerintah kolonial.

“Harus ada yang melawan penindasan ini,” kata seseorang yang berjalan menghampiri Sutjatmi dengan membawa koran.

Gustiawan, orang yang humanis dan aktif, selalu menggebu-gebu saat mendiskusikan kemerdekaan dan perlawanan. Hari ini, dia menunjukkan sebuah berita pada Sutjatmi. Isinya tentang kebaikan kolonial yang membangun pabrik guna untuk kemajuan ekonomi negeri.

Sudah biasa memang jika koran-koran yang terbit di negeri ini selalu memberitakan hal baik tentang pemerintah kolonial, cara jitu untuk membuat rakyat terlena dan enggan berpikir untuk melawan.

Di ruangan yang berukuran tidak lebih dari empat kali tiga ini, cahaya lampu minyak menerangi dengan kepulan asap hitam menari-nari ditiup angin. Gustiawan membuka pembicaraan dengan dua orang lainnya, Nadjib seorang yang sadar akan penindasan, Muhaimin dari kalangan seniman, dan Sutjatmi sendiri sahabat seperjuangan Gustiawan dari lingkar pemuda.

Sutjatmi yang sedari tadi menghayal, langsung serius dengan arah pembicaraan.

“Apa yang seharusnya kita perbuat? Lihatlah kelakuan pemerintah kolonial itu, semakin menjadi-jadi saja,” kata Nadjib dengan nada geram.

Fokus pembicaraan mereka mengarah pada tindakan represif pemerintah kolonial kepada pekerja kebun kopi di desa Bodjotelu seminggu yang lalu. Di sana, terjadi lagi perampasahan tanah pribumi dengan paksa, ditambah pembantaian dan perusakan rumah penduduk yang tidak mau menyerahkan kebunnya.

Ini bukan hanya sekadar soal tanah dan hak yang diambil oleh pemerintah kolonial. Lebih dari itu, rakyat negeri dianggap bodoh dan diperlakukan tidak selayaknya manusia. Gadis-gadis yang diperkosa dan para pekerja kebun yang mati perlahan karena tidak mendapat upah.

Semua rakyat seakan tutup mata. Mungkin karena takut atau sudah berpikir sewajarnya dan mengatakan inilah kita, inilah nasib kita.

“Ini tidak bisa dibiarkan, harus ada yang melawan,” kata Gustiawan kepada Nadjib.

“Dengan cara apa kita melawan kungkungan kolonial ini,” kata Sutjatmi memotong keduanya. “Perlawanan haruslah dibarengi dengan kekuatan massa. Percuma kita berwacana tanpa adanya pergerakan nyata. Revolusi harus berada di tangan rakyat yang mau dan ingin perubahan,” sambungnya.

“Cita-cita kita memanglah besar, tapi tembok yang harus kita runtuhkan begitu besar dan tinggi juga,” Sutjatmi memotong lagi pembicaraan. Pikiran Sutjatmi memanglah sedikit realistis.

“Janganlah engkau terlalu berpikiran pesimis. Perjuangan kita pasti akan tiba pada waktunya,” kata Gustiawan sambil menghisap rokok.

“Aku dengar kabar dari seorang kawan bahwa pergerakan pemuda sudah mulai terlihat,” sambung Gustiawan lagi meyakinkan Sutjatmi.

Suasana pembicaraan semakin panas dan lebar. Semua saling bertukar pendapat yang pada intinya menginginkan pemuda dan rakyat bersatu melawan kolonialisme. Rakyat haruslah dibebaskan dari segala bentuk penindasan.

“Kita tidak bisa lagi mengharapkan pejabat pemerintah dari kalangan pribumi yang hobinya menjilat pemerintah kolonial demi kepentingan pribadi dan kelanggengan jabatannya,” papar Muhaimin menambahkan.

Pemerintah kolonial memang sudah selayaknya dilawan. Gustiawan berdiri lalu berjalan menuju meja. Di atasnya, berserakan kertas dan mesin ketik. Di sampingnya, terdapat beberapa buku usang.

“Tunggu sebentar,” kata Gustiawan sambil membongkar laci yang berada di bawah meja.

Malam sudah semakin larut. Suara jangkrik dari balik pepohonan menjadi hiburan tersendiri.

“Ini dia,” kata Gustiawan sambil menunjukkan secarik kertas. “Surat yang datang kemarin sore dari seorang kawan di Jawa. Inilah alasanku mengumpulkan kalian berempat di sini,” sambungnya sambil berjalan kembali menuju Nadjib, Muhaimin, dan Sutjatmi yang memasang wajah penasaran.

Secarik kertas lusuh berwana putih menguning dengan bekas air hujan, terdapat tulisan yang tidak begitu rapi. Mungkin karena ditulis dengan terburu-buru. Tulisannya berisi;

Temanku Gustiawan

Ingatkah engkau dengan apa yang kita bicarakan tempo hari lalu, saat para keparat itu menodongkan bayonet di kepala orang tua kita; orang-orang yang tidak bersalah dan lemah tanpa senjata diperlakukan layaknya budak; disiksa apabilah melawan.

Ingatkah saat mereka dipaksa bekerja siang malam tanpa upah, tanah mereka dirampas dengan paksa. Semua aturan memberatkan rakyat kita, ini adalah tanah kita. Sudah saatnya kita melawan atas apa yang telah menjadi hak kita.

Aku tahu kerisawanmu saat ini sama denganku. Pemerintah kolonial sudah seharusnya dilawan, peta pergerakan pemuda sudah sampai pada titik terdepan perlawan. Salah satu perihal yang mempengaruhinya adalah kemenangan Jepang atas Rusia

Beberapa hari lalu saya mendengar kabar bahwa di School tot Opleiding van Indische Artsen, sekelompok mahasiswa sedang menggagas organisasi pemuda. Tujuannya jelas, membebaskan rakyat dari belenggu penindasan.

Inilah kita, sodaraku, cita-cita kemerdekaan mungkin bukan hannya sekadar khayalan belaka. Mungkin inilah gerakan yang sudah lama kita tunggu-tunggu dan harapkan. Aku harap gerakan ini bisa membawa perubahan dan membangkitkan persatuan untuk kemerdekaan rakyat kita.

Kuharap engkau baik-baik saja di sana dan teguh berdiri di atas prinsip, pemuda jangan cari aman dengan main netral.

Budiman

“Mungkinkah itu benar adanya?” kata Nadjib langsung memotong saat Gustiawan selesai membacakan surat.

“Lihatlah, bukan hanya kita saja yang sadar akan kemerdekaan,” sambung Muhaimin dengan senyuman.

“Mungkin inilah titik balik dari pergerakan pemuda dan akan memicu pergerakan-pergerakan lainnya,” Sutjatmi berdiri. “Kita sudah berada pada titik yang terang, hanya tinggal menunggu waktu,” sambungnya dan menepuk pundak Gustiawan.

Selepas pembicaraan malam itu, banyak yang terjadi. Pada tanggal 20 Mei 1908, organisasi perlawanan pemuda berdiri dengan nama Boedi Oetomo yang didirikan oleh Wahidin Sudirohusodo, Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji mahasiswa STOVIA. Memang benar apa yang Gustiawan dan kawan-kawan diskusikan malam itu, Boedi Oetomo menjadi awal gerakan pemuda yang bertujuan mencapai kemerdekaan.

Selepas itu, banyak bermunculan perkumpulan dan pergerakan yang bersifat luas. Bermuara dari kelompok-kelompok diskusi hingga akhirnya menjadi pergerakan yang besar dan kuat dengan satu tujuan; melepaskan Indonesia dari segala macam penindasan.